Kamis, 26 Desember 2013

Pungguk Merindukan Bulan

Andai kau bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu seperti ku mengagumi dirimu, pasti aku sangat sangat sangat bahagia. Tapi semua itu hanya mimpi karena pada akhirnya kita mungkin tidak berjodoh.
Itulah yang aku alami sangat sulit melupakan cinta pertama, seperti menebang pohon besar tanpa kapak. Sangat menyedihkan.
Namaku Putri Ratnasari Yogaviani, sangat panjang bukan?! Jangan mengira di namaku jelek dan biasa, tapi orang tuaku memberikan nama ini dengan penuh arti, tapi masalahnya sekarang, aku tidak tahu artinya. Hehehe.
Kisah cinta burukku dimulai dari kelas 2 smp, saat itu aku seorang siswa yang biasa saja dan sampai sekarang, tidak cantik dan tidak terkenal. Walaupun begitu aku selalu yang menjadi terspesial di antara teman temanku dan aku juga tidak tahu apa keistimewaanku. Aku mempunyai rasa yang aneh terhadap seseorang cowok yang buat aku terpesona. Namanya adalah Sholik Hidayah.
Kisah ini berawal dari Hari pertama sekolah setelah dua minggu rasanya mendebarkan, penasaran aku akan di masukkan ke kelas 8 apa dan akan bertemu dengan siapa dan bagaimana aku akan memulai perkenalanku terhadap anak lain yang mungkin bukan satu kelas pada saat aku kelas 7. Hummm, sangat mendebarkan. Dimulai dari rumah, aku bersiap siap untuk menghadapi kejutan di hari pertamaku sekolah. Aku biasa berangkat jam 06.00, mungkin itu adalah kebiasaan dari SD, menumpangi sepeda pink yang sebenarnya telalu tinggi untuk ukuran kakiku yang sangat pendek pada saat itu. Mengayuh menerobos angin sawah yang terasa sejuk di kulit tapi lama lama dingin juga. Lalu memarkirkan di tempat yang strategis, agar kalau pulang tidak terlalu susah mengeluarkannya.
Aku masuk ke lorong antar kelas melihat di salah satu jendela kelas 8 barang kali susunan murid baru sudah di tempel, tapi ternyata belum. Aku meneruskan perjalanan ku menuju tempat duduk yang sepi, walaupun pada waktu itu belum ada yang datang. Sepi sekali, aku menengok ke kanan dan ke kiri barang kali ada yang sudah datang. Setelah sekitar 5 menit, akhirnya ada yang datang, tapi dia bukan temanku, aku tidak kenal sama dia tapi aku sering meihatnya. Dia duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Setelah anak itu duduk, ada salah satu teman lagi datang dan aku mengenalnya dia Nimade, cewek yang cantik dan ramah itu menghampiriku.
“apa sudah ditempelkan?”, tanyanya padaku
“huft, kamu liat aja sendiri, belum kan! Sangat molor, bikin mendebarkan”,  jawabku
“betul”
Beberapa lama kemudian,  jam sudah menunjukkan pukul 08.00. akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Seorang petugas TU datang dan menempel selembar kertas yang berisi nama murid kelas baru. Aku mencari dimana namaku, saatku sibuk antri melihat nama murid, aku melihat Rizky cowok yang aku suka dari kecil juga sedang sibuk mencari namanya di kelas sebelah, dalam hati aku berkata
“ya Allah, kalau emang dia jodohku, satukan kami dalam satu kelas.”
Aku terus mencari dan mencari, akhirnya aku melihat namaku di kelas 8C, dan ternyata aku tidak satu kelas dengan Rizky. Huhhm,, sedih juga sih. Aku melihat daftar nama yang sama denganku ada dua orang tmenku yang dulu di 7A satu kelas denganku, namanya Risa dan Gita. Ehmmm, keduanya memiliki sifat yang payah, kalau ulangan nyontek dan PR gak pernah ngerjain. Tapi ya mau gimana lagi.
Aku masuk dan mencari tempat duduk, dan akhirnya aku mendapatkannya, di pinggir jendela meja nomor 3 dari depan. Hufft, legaa. Beberapa saat kemudian Risa datang.
“Mbak Ciput, aku duduk sama kamu yaa..?”
“Ehmm, yawdah deeh.”(terpaksa)
Kami lalu mengobrol, bercerita tentang pengalaman libur kemarin. Tak terasa kelas sudah mulai penuh dengan teman baru. Tak lama kemudian datang wali kelas baruku, beliau langsung memperkenalkan diri. Singkatnya nama beliau Bu Tatik, dia juga guru biologi.
Setelah Bu Tatik memperkenalkan diri, beliau keluar sebentar karena ada keperluan. Aku liat semua teman baruku. Aneeh, aku sangat tidak nyaman. Aku merindukan kelasku yang dulu.
Hari berganti hari, lama lama aku dapat mengenal semua teman kelasku walau tidak begitu akrab. Dan ada seorang teman cowok yang buatku tertarik. Dia pandai, manis, lucu, dan baik. Karena tempat duduk kami agak berjauhan, jadi aku tidak bisa sering menggodanya. Dia bernama Sholik Hidayah, cowok yang sudah aku sebutkan dari awal tadi J. Walaupun dia begitu manis dan lain-lain tetapi dia itu cuek banget, itu yang bikin aku penasaran sama dia.
Lama aku memendam perasaanku, aku cuma bisa memandangnya dari jauh. Ketika aku sedang bosan di kelas, ketika sedang istirahat di kelas, maupun ketika sedang mengerjakan tugas. Aku suka memandanginya.
Tapi suatu ketika aku dapat kabar kalau ternyata Sholik pacaran sama adik kelas bernama Nining. Aku kenal Nining, aku tau Nining, dia emang cantik dengan kulit putih dan ideal lah, tidak sepertiku. Hmm, aku sih ikhlas aja, gapapa deh asal dia bahagia. Aku pun sempat mengubur perasaanku kepadanya. Lama terasa kelas 8 akan usai, naik ke kelas 9 pasti di acak lagi muridnya. Belum sampai perasaanku ke Sholik, tapi kita harus berpisah.
Tapi takdir berkata lain, kelas 9 kita dipertemukan lagi. Tepatnya di kelas 9C. Gak nyangka rasanya seneng banget. Dan juga bangku tempat duduknya tepat bersebelahan denganku. Ahh pastinya aku akan sering melihat tampang manisnya itu. Tapi itu juga bikin aku galau, karena dia kan udah ada yang punya, haruskah ku kejar dia. Huufft.
Beberapa lama kemudian aku dapat kabar lagi kalau Nining dan Sholik putus. Aku seneng banget. Tapi tetep aja aku gak bisa berbuat apa-apa untuk mengambil hatinya. Coz dia cuek ke aku. Sampai suatu ketika dia bertanya kepadaku
“Rumahmu Cangkir kan, kenal Nining gak?” tanyanya
“Iya rumahku Cangkir, aku kenal Nining, tapi rumahku agak jauh sama dia”
“masa jauh sih, aku mintain nomor hapenya donk”
“ehmmm” dalam hati aku bingung aku harus jawab gimana, aku kan ga begitu akrab sama Nining.
Tapi dia tetep maksa. Dalam hati, ini kesempatan aku bisa deket sama dia. Akhirnya aku jawab
“iya deeh,  aku usahain”
Aku punya rencana di balik ini semua.
Keesokan harinya
“mana nomor hapenya?”
Aku belum dapet nomornya, tapi sebenarnya
“ohh ya lupa aku Lik, ketinggalan dirumah. Aku minta nomor hapemu aja nanti aku smsin nomornya”
Ahaayy, dalam hati ku berdoa moga aja dia mau ngasih nomor hapenya. Ehh beneran
“ohh, oke deh. Mana ada kertas gak?”
Langsung aja deh aku kasih buku tulisku, dicatet deh nomernya dibukuku itu. Tulisannya sih gak bagus, malah jelek banget, tapi aku suka :D
Yeaah, misi berhasil, ketawa jingkrak-jingkrak deh aku dalam hati. Akhirnya aku bisa dapet nomernya. Makasih Tuhan haha #lebay.
Sampek dirumah aku smsin dia.
“ni bner nomernya sholik ta?”
“iya bner,  ini siapa ya?”
“aku putri”
“ohh mana nomernya Nining?”
“oh ya ini ni
“ohh ya makasih”
Padahal nomer yang aku kasih itu bukan nomer Nining yang asli, tapi itu nomer Tanti. Sahabatku dari kecil, walaupun umurku lebih tua dari dia tapi aku sama dia selalu kompak dan dia juga lebih berpengalaman soal berpacaran dari pada aku, maklumlah dia lebih cantik dan endel daripada aku yang pas-pasan n pendiam ini. Sebelumnya aku udah cerita ke Tanti tentang Sholik juga rencanaku ini dan dia setuju. Dia masih kelas 7, dia juga satu sekolah denganku. Biasanya kalo sekolah berangkat Ngontel bareng gitu deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar