Andai kau bisa
mencintaiku seperti aku mencintaimu seperti ku mengagumi dirimu, pasti aku
sangat sangat sangat bahagia. Tapi semua itu hanya mimpi karena pada akhirnya
kita mungkin tidak berjodoh.
Itulah yang aku
alami sangat sulit melupakan cinta pertama, seperti menebang pohon besar tanpa
kapak. Sangat menyedihkan.
Namaku Putri
Ratnasari Yogaviani, sangat panjang bukan?! Jangan mengira di namaku jelek dan
biasa, tapi orang tuaku memberikan nama ini dengan penuh arti, tapi masalahnya
sekarang, aku tidak tahu artinya. Hehehe.
Kisah cinta
burukku dimulai dari kelas 2 smp, saat itu aku seorang siswa yang biasa saja
dan sampai sekarang, tidak cantik dan tidak terkenal. Walaupun begitu aku
selalu yang menjadi terspesial di antara teman temanku dan aku juga tidak tahu
apa keistimewaanku. Aku mempunyai rasa yang aneh terhadap seseorang cowok yang
buat aku terpesona. Namanya adalah Sholik Hidayah.
Kisah ini
berawal dari Hari pertama sekolah setelah dua minggu rasanya mendebarkan,
penasaran aku akan di masukkan ke kelas 8 apa dan akan bertemu dengan siapa dan
bagaimana aku akan memulai perkenalanku terhadap anak lain yang mungkin bukan
satu kelas pada saat aku kelas 7. Hummm, sangat mendebarkan. Dimulai dari
rumah, aku bersiap siap untuk menghadapi kejutan di hari pertamaku sekolah. Aku
biasa berangkat jam 06.00, mungkin itu adalah kebiasaan dari SD, menumpangi
sepeda pink yang sebenarnya telalu tinggi untuk ukuran kakiku yang sangat
pendek pada saat itu. Mengayuh menerobos angin sawah yang terasa sejuk di kulit
tapi lama lama dingin juga. Lalu memarkirkan di tempat yang strategis, agar
kalau pulang tidak terlalu susah mengeluarkannya.
Aku masuk ke
lorong antar kelas melihat di salah satu jendela kelas 8 barang kali susunan
murid baru sudah di tempel, tapi ternyata belum. Aku meneruskan perjalanan ku
menuju tempat duduk yang sepi, walaupun pada waktu itu belum ada yang datang.
Sepi sekali, aku menengok ke kanan dan ke kiri barang kali ada yang sudah datang.
Setelah sekitar 5 menit, akhirnya ada yang datang, tapi dia bukan temanku, aku
tidak kenal sama dia tapi aku sering meihatnya. Dia duduk tidak jauh dari
tempatku duduk. Setelah anak itu duduk, ada salah satu teman lagi datang dan
aku mengenalnya dia Nimade, cewek yang cantik dan ramah itu menghampiriku.
“apa sudah
ditempelkan?”, tanyanya padaku
“huft, kamu liat
aja sendiri, belum kan! Sangat molor, bikin mendebarkan”, jawabku
“betul”
Beberapa lama
kemudian, jam sudah menunjukkan pukul
08.00. akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Seorang petugas TU datang dan
menempel selembar kertas yang berisi nama murid kelas baru. Aku mencari dimana
namaku, saatku sibuk antri melihat nama murid, aku melihat Rizky cowok yang aku
suka dari kecil juga sedang sibuk mencari namanya di kelas sebelah, dalam hati
aku berkata
“ya Allah, kalau
emang dia jodohku, satukan kami dalam satu kelas.”
Aku terus
mencari dan mencari, akhirnya aku melihat namaku di kelas 8C, dan ternyata aku
tidak satu kelas dengan Rizky. Huhhm,, sedih juga sih. Aku melihat daftar nama
yang sama denganku ada dua orang tmenku yang dulu di 7A satu kelas denganku,
namanya Risa dan Gita. Ehmmm, keduanya memiliki sifat yang payah, kalau ulangan
nyontek dan PR gak pernah ngerjain. Tapi ya mau gimana lagi.
Aku masuk dan
mencari tempat duduk, dan akhirnya aku mendapatkannya, di pinggir jendela meja
nomor 3 dari depan. Hufft, legaa. Beberapa saat kemudian Risa datang.
“Mbak Ciput, aku
duduk sama kamu yaa..?”
“Ehmm, yawdah
deeh.”(terpaksa)
Kami lalu
mengobrol, bercerita tentang pengalaman libur kemarin. Tak terasa kelas sudah
mulai penuh dengan teman baru. Tak lama kemudian datang wali kelas baruku,
beliau langsung memperkenalkan diri. Singkatnya nama beliau Bu Tatik, dia juga
guru biologi.
Setelah Bu Tatik
memperkenalkan diri, beliau keluar sebentar karena ada keperluan. Aku liat
semua teman baruku. Aneeh, aku sangat tidak nyaman. Aku merindukan kelasku yang
dulu.
Hari berganti
hari, lama lama aku dapat mengenal semua teman kelasku walau tidak begitu
akrab. Dan ada seorang teman cowok yang buatku tertarik. Dia pandai, manis,
lucu, dan baik. Karena tempat duduk kami agak berjauhan, jadi aku tidak bisa
sering menggodanya. Dia bernama Sholik Hidayah, cowok yang sudah aku sebutkan
dari awal tadi J. Walaupun dia
begitu manis dan lain-lain tetapi dia itu cuek banget, itu yang bikin aku
penasaran sama dia.
Lama aku
memendam perasaanku, aku cuma bisa memandangnya dari jauh. Ketika aku sedang
bosan di kelas, ketika sedang istirahat di kelas, maupun ketika sedang
mengerjakan tugas. Aku suka memandanginya.
Tapi suatu
ketika aku dapat kabar kalau ternyata Sholik pacaran sama adik kelas bernama
Nining. Aku kenal Nining, aku tau Nining, dia emang cantik dengan kulit putih
dan ideal lah, tidak sepertiku. Hmm, aku sih ikhlas aja, gapapa deh asal dia
bahagia. Aku pun sempat mengubur perasaanku kepadanya. Lama terasa kelas 8 akan
usai, naik ke kelas 9 pasti di acak lagi muridnya. Belum sampai perasaanku ke
Sholik, tapi kita harus berpisah.
Tapi takdir
berkata lain, kelas 9 kita dipertemukan lagi. Tepatnya di kelas 9C. Gak nyangka
rasanya seneng banget. Dan juga bangku tempat duduknya tepat bersebelahan
denganku. Ahh pastinya aku akan sering melihat tampang manisnya itu. Tapi itu
juga bikin aku galau, karena dia kan udah ada yang punya, haruskah ku kejar
dia. Huufft.
Beberapa lama
kemudian aku dapat kabar lagi kalau Nining dan Sholik putus. Aku seneng banget.
Tapi tetep aja aku gak bisa berbuat apa-apa untuk mengambil hatinya. Coz dia
cuek ke aku. Sampai suatu ketika dia bertanya kepadaku
“Rumahmu Cangkir
kan, kenal Nining gak?” tanyanya
“Iya rumahku
Cangkir, aku kenal Nining, tapi rumahku agak jauh sama dia”
“masa jauh sih,
aku mintain nomor hapenya donk”
“ehmmm” dalam
hati aku bingung aku harus jawab gimana, aku kan ga begitu akrab sama Nining.
Tapi dia tetep
maksa. Dalam hati, ini kesempatan aku bisa deket sama dia. Akhirnya aku jawab
“iya deeh, aku usahain”
Aku punya
rencana di balik ini semua.
Keesokan harinya
“mana nomor
hapenya?”
Aku belum dapet
nomornya, tapi sebenarnya
“ohh ya lupa aku
Lik, ketinggalan dirumah. Aku minta nomor hapemu aja nanti aku smsin nomornya”
Ahaayy, dalam
hati ku berdoa moga aja dia mau ngasih nomor hapenya. Ehh beneran
“ohh, oke deh.
Mana ada kertas gak?”
Langsung aja deh
aku kasih buku tulisku, dicatet deh nomernya dibukuku itu. Tulisannya sih gak
bagus, malah jelek banget, tapi aku suka :D
Yeaah, misi
berhasil, ketawa jingkrak-jingkrak deh aku dalam hati. Akhirnya aku bisa dapet
nomernya. Makasih Tuhan haha #lebay.
Sampek dirumah
aku smsin dia.
“ni bner
nomernya sholik ta?”
“iya bner, ini siapa ya?”
“aku putri”
“ohh mana
nomernya Nining?”
“oh ya ini ni
“ohh ya makasih”
Padahal nomer
yang aku kasih itu bukan nomer Nining yang asli, tapi itu nomer Tanti.
Sahabatku dari kecil, walaupun umurku lebih tua dari dia tapi aku sama dia
selalu kompak dan dia juga lebih berpengalaman soal berpacaran dari pada aku,
maklumlah dia lebih cantik dan endel daripada aku yang pas-pasan n pendiam ini.
Sebelumnya aku udah cerita ke Tanti tentang Sholik juga rencanaku ini dan dia
setuju. Dia masih kelas 7, dia juga satu sekolah denganku. Biasanya kalo
sekolah berangkat Ngontel bareng gitu deh.